Kamis, 17 Oktober 2013

pengalaman Pramuka PTA (Pelantikan Tamu Ambalan)

Mengingat kembali masa masa SMA itu memang seringkali membuat kita senyum senyum sendiri. Banyak pengalaman yang gue alami saat SMA. salah satu pengalaman gue waktu SMA yaitu PTA (Pelantikan Tamu Ambalan). PTA adalah acara pramuka, istilah lainnya camping. Bisa di bilang ini pengalaman yang mengesankan. Karena Permulaan acara saja sudah berjemur di lapangan sekolah, alhasil kami berkeringat. Mungkin jika keringat kami dikumpulkan, bisa menjadi persediaan air sekolah selama seminggu. Walaupun resikonya adalah bau kecut yang akan menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Setelah kami gosong, crispy dan kecut akibat berjemur, Kami mulai berangkat ke daerah Gunung Bunder, Tempat dimana PTA akan di laksanakan. Kelompok kami membawa satu gitar, yang berperan sebagai pelepas penat selama melaksanakan PTA. di bayangan Gue, kami bakal karaokean di perjalanan, Bermain gitar, dan cerita berbagai hal menarik selama di bis nanti. Namun bayangan tinggallah bayangan, Ternyata kami berangkat memakai truk TNI, truk dengan warna gelap dan menyerap panas. Alhasil kami makin gosong, kecut, crispy dan ditambah bau kambing. Mungkin karena kami di kumpulkan seperti kambing aqiqah, sehingga bau ini begitu memaksa memasuki hidung kami. Dengan rasa kecewa, Gue masuk dan duduk di dalam truk TNI itu. Di tengah perjalanan kami habiskan dengan keheningan. Mungkin karena kami merasa seperti kawanan perampok ikan tongkol yang tertangkap basah oleh polisi, lalu segera diadili.
Udara mulai dingin, tanda kami hampir sampai tempat perkemahan. Namun sesaat sebelum tiba di tempat perkemahan, pantat Gue keram. Gue tebak ini karena kadar lemak di pantat Gue yang sangat terbatas hingga lemak Gue yang sedikit itu menahan badan Gue yang selama di dalam truk hanya duduk diam. Yah itulah Gue, kurus pake banget... Mungkin jika saja ada kertas dan benang, Gue sudah dibuat melayang-layang di udara sebagai layang-layang alamiah oleh teman teman Gue mayoritas yang berbadan tegap.
Hari sudah sore ketika kami tiba di tempat perkemahan, ada yang ganjil pada penempatan tenda antara perkemahan laki laki dan perempuan. Perkemahan perempuan berada di tempat yang lebih tinggi, dipenuhi dengan rumput hijau, dan terhalang bukit kecil yang menghalangi angin berlebihan untuk masuk. Sedangkan perkemahan laki laki berada di tempat yang lebih rendah, sebelah timurnya adalah jurang, dan banyak kerikil-kerikil tak lazim. Kerikil-kerikil tersebut seperti sengaja di tempatkan di perkemahan pria, karena banyak di antaranya merupakan puing puing bangunan rusak. Suatu rencana pembunuhan yang cerdik.
Tugas pertama kami di PTA ini adalah membuat tenda. Bukan hal yang sulit bagi kelompok Gue, Dikarenakan postur tubuh kelompok Gue yang besar (kecuali Gue). Dengan postur badan seperti itu, mereka bisa dengan mudah menjadi seorang binaraga. Meski wajah wajah mereka lebih cocok bekerja di rumah pemotongan hewan. Dan terbukti, dengan satu dua kali hentakan tenaga. Tenda kami telah tegak berdiri, dan menjadi tenda pertama yang selesai. Karena keahlian kelompok Gue ini, tidak heran jika salah satu kelompok lain meminta bantuan teman-teman gue untuk membantu membuat tenda. Kelompok lain ini masih teman-teman sekelas kelompok Gue. Tapi mereka tidak seKINGKONG kelompok Gue. Bahkan Mereka tidak jauh berbeda dengan Biri-Biri Amerika Latin. Namun kelebihan mereka adalah mempunyai persediaan makanan yang berlebihan. ya, Gue rasa itu berlebihan jika membawa Nugget dan sosis masing- masing satu pack. Mereka mau camping apa piknik? Tapi makanan berlebihan mereka menjadi suatu kelebihan yang menjadi kelemahan kelompok Gue. Namun Biri-Biri tetaplah Biri-Biri. Mereka tidak membawa persediaan minyak sayur yang cukup. Suatu kelebihan yang tidak sempurna dari sekawanan Biri-Biri.

Hari semakin sore. hujan gerimis yang baru saja datang, langsung berubah menjadi hujan lebat yang membawa bencana. Mula-mula, kami masih bertahan dalam tenda di guyuran
hujan deras. Namun di tengah perjuangan mempertahankan tenda, salah satu tenda kelompok roboh, dan satu lainnya kebanjiran. Mungkin jika Gue seorang bocah kampung Gue bakal bilang:
"EMAAAAAAAAAAK, HAYANG BAAAALIIIIIIIIK". Namun kami berusaha bertahan, walau angin besar mulai datang dan membuat tenda kami bocor.
"ITU ADA AIR HUJAN MASUK, TAMBAL CEPEEEET" kata ketua kelompok Gue.
"SIAP!!" jawab Gue dengan sigap dan segera menambal kebocoran tersebut dan sesekali meminum air hujan tersebut, Karena stok air di tenda habis.
Sementara para peserta laki-laki kerepotan dengan tendanya masing-masing, peserta perempuan dengan santainya melihat pemandangan kami yang sedang bertempur dengan alam di pondok yang tersedia. Ya, para peserta perempuan telah berhasil di evakuasi ke pondok. Sedangkan peserta laki laki... 'Ilang juga ga apa-apa deh'. Mungkin kami peserta laki laki di anggap sama seperti Kijang yang ada di Istana Bogor. Yang di biarkan kehujanan begitu saja, dan menunggu orang datang memberi kami wortel murah pada akhir pekan.
Sekitar setengah jam kami semua bergelut dengan ganasnya alam di lereng gunung. Kelompok yang tendanya telah roboh tampak gigit jari. apalagi kelompok yang tendanya kebanjiran entah sudah berapa liter air hujan yang bercampur dengan pipis mereka. karena sikap pasrah mereka yang terlihat jelas.
BADAI PASTI BERLALU. mungkin itu bukan sebagai istilah lagi, bahkan bisa diartikan secara harfiah oleh kami yang melewati tantangan yang berat semacam itu. Setelah hujan benar-benar berhenti, barulah peserta pria di evakuasi. Bukan ke tempat yang aman, tetapi ke tempat yang MUNGKIN CUKUP AMAN, Yaitu sebuah masjid kecil dengan tembok setinggi setengah badan di masing masing sisinya. tanpa pintu, tanpa jendela, tanpa kasur, tanpa tv, tanpa internet, dan tanpa Emak....
Malam pertama pun kami lalui di masjid itu. Seperti teman yang tidur bersama pada umumnya, kami tidak bisa tidur. Bahkan ada peserta yang sempet-sempetnya curhat kepada temennya. Ya, memang masa SMA kami adalah masa awal tumbuhnya populasi Labil nan Galau. Kasian.
Alhasil karena kondisi yang tidak mendukung diberbagai aspek, diantaranya: orang yang lagi curhat berisik banget, yang maen kartu apalagi, paling berisik, dan cuaca mendung bikin sempak lembab. Faktor terakhir adalah faktor utamanya Gue ga bisa tidur. Apalagi karena sempak yang lembab tersebut mengakibatkan Gue kentut-kentut, menyebar ke penjuru ruangan, dan baunya yang tidak bisa ditoleransi lagi. Malam itu menjadi malam yang pilu.
Keesokan paginya....